Feed on
Posts
Comments
duka datang tak terbayangkan
bagaikan mimpi
kepergian itu sangatlah nyata
kita memang terpisah

siklus waktu tlah mengajarkan
sang mentari pun terbit dan tenggelam
lihatlah…

perpisahan hanyalah perpindahan kehidupan
sebenarnya dia tak sungguh hilang
hanya terpisah dengan raga

kepergian itu menusuk hati menebus jiwa
derai air mata takkan membuat
dia bahagia disana

siklus waktu tlah mengajarkan
sang mentari pun terbit dan tenggelam
lihatlah…

perpisahan hanyalah perpindahan kehidupan
sebenarnya dia tak sungguh hilang
hanya terpisah dengan raga

kehidupan diwarnai yang datang dan yang pergi
maka bangunlah dia tak sungguh hilang
hanya terpisah sementara

Kerispatih - Demi Cinta

Maaf, ku telah menyakitimu
Ku telah kecewakanmu
Bahkan ku sia-siakan hidupku,
dan kubawa kau s’perti diriku
Walau hati ini t’rus menangis
Menahan kesakitan ini
Tapi ku lakukan semua demi cinta

Akhirnya juga harus ku relakan
kehilangan cinta sejatiku
Segalanya t’lah ku berikan
Juga semua kekuranganku
Jika memang ini yang terbaik
Untuk diriku dan dirinya
Kan ku t’rima semua demi cinta

Jujur, aku tak kuasa,
saat terakhir ku genggam tanganmu
Namun yang pasti terjadi,
kita mungkin tak bersama lagi
Bila nanti esok hari
Ku temukan dirimu bahagia
Ijinkan aku titipkan kisah cinta kita
selamanya

Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
dengan memburu bayang-bayang?
Sama-sama kosong

Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
Apakah ada bedanya bila mata terpejam?

Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku

Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli

Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah?
Sama-sama nikmat

Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka
duka yang tersayat
rasa yang terluka

——-

Apakah ada bedanya? …Dan hanya kau dan aku yang mengerti…

Imajinasi dan fantasi seperti menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Kadang-kadang keduanya munculkan persepsi yang bias di kepalaku. Jangan tanya tentang apa, karena semua bisa saja berseliweran di kepalaku. Tak peduli soal ipoleksosbudhankam (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan –> Hai, kok jadi inget jaman jebot ya…) maupun soal printilan cinta.

Aku mencoba jadikan kepalaku sebagai padang rumput dimana imajinasi menyulap dirinya menjadi sekumpulan kambing yang bebas merumput dibawah rindangnya pohon-pohon fantasi. Yang membuatku senewen adalah saat kambing imajinasi itu kekenyangan merumput. Sontak mak blak babak bunyak tokay markengkong bulet-bulet segentong mengotori ranah penggembalaan hijau di kepalaku. Sekalipun adem dan sejuk sepoi-sepoi, tetap saja butiran tokay kambing mengganggu kesempurnaan ‘dunia kepalaku’.

Akhirnya persepsi keindahan antara kebun dengan rumput tinggi subur, sekumpulan kambing montok dan rindangnya pohon yang menaungi, berubah menjadi sebuah toilet kecil yang menjijikkan. Bukan salah tokaynya! Tokay adalah edisi akhir dari proses metabolisme tubuh. Jadi dia adalah “akibat” alias obyek penderita. Kalau soal bau dan bentuknya yang aneh, itu memang haknya si tokay kambing.

Membebaskan imajinasi dan fantasi memang tidak mudah. Ada batasan absurd yang dibangun oleh manusia yang merasa dirinya ’super’ hingga kesampingkan tulusnya imajinasi dan fantasi. Bisa dibayangkan sekerdil apa manusia itu! Dia hanya melihat sesuatu dari sisi yang salah, melihat sesuatu dari sisi dimana dia berdiri, melihat dari sisi dimana kebenaran (yang juga absurd) itu dia yakini. Malangnya…

Jadi tetap saja tokay yang disalahkan! Karena dia pembawa aroma neraka, dia pembawa comberan petaka. Hingga imajinasi dan fantasi menunggu mati suatu hari nanti.

Sepatuku

Pfff! Aku masih rasakan lelah kakiku malam ini usai menyusuri malam sendirian. Aku biarkan sepatu dan kaus kakiku berserakan dilantai. Enggan rasanya membuang waktu memindahkan barang-barang itu ke tempat yang lebih layak. Aku ingin menikmati segar dan bebasnya telapak kakiku dari sepatu yang telah lama melingkupi kakiku.

Layaknya hari-heri sebelumnya, beban masih saja bertengger di kedua pundakku. Beban yang kadang lebih berat dari yang aku mampu dan kadang serasa hilang entah kemana. Bukankah hidup tidak wajar jika tak ada beban yang harus dipikul? Karenanya aku menerima beban itu sebagaimana harus aku emban.

Beban itulah yang membuat tubuhku makin berat dan memaksa kedua kakiku menopang sarat yang tiada kira. Ujung-ujungnya, sepatuku seperti penjara yang meremas kebebasan kakiku. Tapi karena alasan etika dan keindahan, aku harus menahan sekian lama sesaknya ia mencengkeram kakiku.

Aku harus bebaskan kakiku. Aku harus bebaskan sepatuku.

Walaupun bau!

Older Posts »