Kerispatih – Pergi dengan Indah

December 22nd, 2011  Tagged ,

saat ku tak mampu bertahan lagi
yang ku mau hanya tak menyakitimu
biar saja kau tahu sendiri
cinta itu tak hanya mencari kesenangan diri

saat ku harus katakan perpisahan
yang kau mau hanya ku tetap bersamamu
aku sangat mengerti sayangku
tapi maafkan ini semua harus berakhir

aku masih cinta itu sebabnya ku pergi
aku masih sayang itu sebabnya ku minta kau berpikir
cinta bukan luka, tapi cinta memahami
semoga hidup ini lebih berwarna bagi kita
meski harus berpisah jauh

jauh, terpisah jauh
terpisah jauh

aku masih cinta itu sebabnya ku pergi (aku masih cinta)
aku masih sayang itu sebabnya ku minta kau berpikir
aku masih cinta itu sebabnya ku pergi (aku masih sayang)
aku masih sayang itu sebabnya ku minta kau berpikir

aku masih cinta, aku masih sayang

biar saja kau tahu sendiri
cinta itu tak hanya mencari kesenangan diri

Kepentingan Abadi

November 6th, 2011

“Tak ada pertemanan yang abadi
Tak ada permusuhan yang abadi
Yang ada hanyalah kepentingan”

Bagi yang sudah memahami #petuahbijak di atas, tentu menyadari bahwa pada intinya kebenaran ‘tak ada yang abadi’ sungguh berlaku pada hubungan horisontal antarmanusia. Jika selama ini sebagian orang masih berpikir bahwa ‘kefanaan’ hanyalah hubungan materialistis antara manusia dan Sang Pencipta, kali ini perlu ditambahi. Contohnya, pada kepahaman tentang fana,  seseorang hanya melihat pada material hidup seperti bumi, laut, hutan dan sebagainya. Kalaupun mengarah pada hubungan antarmanusia, hanya pada hubungan melankolis; kematian dan sebagainya. Jarang yang menyoal pada perasaan secara umum.

Penafikan atas apa yang pernah diucapkan, ingkar pada apa yang sudah dijanjikan dan bersaksi dusta pada apa yang sudah dilakukan adalah bentuk kefanaan yang berada di lingkup perasaan. Penilaian ini terlepas dari hal baik atau buruk, sungguh hanya menilik pada ketidakabadian rasa secara umum. Dalam porsi positif contohnya adalah berdamainya dua perasaan yang sebelumnya berseberangan. Sedangkan contoh negatifnya adalah kebalikan dari itu; Perseberangan antara dua perasaan yang sebelumnya bersisihan.

Idul Adha di Kampung

November 6th, 2011

Sebenarnya sejak tadi malam saat berada di tengah kambing dengan suasana Idul Adha, pikiranku melayang ke masa lalu. Di saat yang sama di sebuah kampung di kota Yogyakarta.

Di masa remajaku, setiap malam Idul Adha, aku sering membantu panitia di Masjid Al Amien bersama teman-teman seumuranku. Sejak menyiapkan bambu untuk obor takbiran, menghias serambi masjid dengan dekorasi sederhana, menyiapkan tali membentuk shaf di lapangan SMEA 3 (sekarang SMK 7), takbir hingga dini hari, sampai tertidur di serambi masjid menunggu waktu shubuh.

Tak banyak yang tahu, kerena alat ‘publikasi pribadi’ (smartphone+social media) pada masa itu belum ada sama sekali. Tetapi betapa itu sangat berkesan dan terkenang hingga saat ini. Maka selalu saja ada kerinduan pada romansa seperti itu. Seperti pagi ini, usai Sholat Idul Adha di tempat yang jauh dari kampung kecilku.

Selamat Idul Adha.

Ngantuk

November 4th, 2011

Pagi ini diawali dengan mimpi yang gak enak banget.

Mimpi tentang seseorang yang menjadi pembicaraan banyak orang karena kepribadiannya yang ‘menyedihkan’.

Dan aku terbangun karena mendengar kegaduhan di dalam rumah.

Tidurku yang baru dua jam terasa lebih pendek.

Ngantuk, tuk, tuk, tuk…

Pengendali Waktu

November 3rd, 2011

Entah sudah kali keberapa niatku untuk melanjutkan tulisan di blog ini terpental entah kemana. Sepertinya waktuku tak tersisa sedikitpun untuk sekedar menuliskan satu dua kata di dalamnya. Dan tadi siang, di salah satu twitter yang aku follow, tertulis kalimat bijak yang menamparku:

“Untuk melakukan sesuatu sebenarnya selalu ada waktu, yang belum tentu ada adalah kemauan”

Benar saja, semakin aku pikirkan, ternyata kemauanku-lah yang harus aku toyor-toyor untuk kusalahkan. Bagaimana tidak, aku seperti dipermainkan oleh waktu. Sepertinya waktu yang memiliki seluruh hidupku, waktu yang mengatur setiap langkahku. Gila!

Hari ini aku seperti dicambuk untuk merubah mindset-ku selama ini bahwa: Semua telah dikalahkan oleh waktu. Tidak! Tidak semua hal serta-merta bisa dikalahkan oleh waktu. Masih ada ‘kemauan’ yang bisa mengalahkan ’mengakali’ waktu.

Begitu terlambatnya pemikiran itu dan membuat waktu yang menjadi kendaliku. Padahal seharusnya akulah pengendali waktu.