• 2

    Apr

    Sendiri

    Tak perlu terhenti di sisa perjalanan ini, toh, dulu, sekarang atau esok pun kita berada di jalan yang berbeda. Tidak kah batin kita menyadari bahwa sendiri adalah abadi? Bukankah di kematian pun kita akan sendiri? Maka akhirnya mesti dipahami, bahwa kita masih diberi arti untuk melewati segala cerita yang telah pergi Melihat bahagiamu seolah tak ingin ku mengusik. Kubiarkan saja tawa dan gelayut manjamu beralih pada satu sosok yang selama ini kamu pungkiri. Kita sesungguhnya hanyalah selembar daun yang hanyut di permukaan sungai. Tak ada tangan yang bisa mencengkeram tepiannya. Juga tak ada tali yang terlempar dan menarik kita dari arusnya. Kita hanya ikuti alurnya kemana-mana.
  • 13

    Dec

    Kepentingan

    Beberapa hari ini aku berpikir tentang ‘kepentingan’. Kepentingan menjadi semacam tolok ukur paling tinggi untuk menyimpulkan ‘ingin’, ‘harap’, ‘butuh’, ‘pamrih’, dan nilai-nilai mutualisme yang lain. ‘Kepentingan’ ini malah menjadi semacam ‘keinginan’ yang tersirat dari sebuah hubungan. Hubungan apa? Hubungan apa saja, pertemanan, persaudaraan, keluarga dan lain-lain, bahkan permusuhan!. Aku masih ingat status salah satu kawan di facebooknya: Tidak ada pertemanan yang abadi, tidak ada permusuhan yang abadi, yang ada adalah kepentingan. Sungguh ‘kepentingan’ mempunyai arti yang sangat dalam. Saat ‘kepentingan’ ini berlaku dalam sebuah hubungan sosial maka semua jalan berujung pada n
  • 18

    Nov

    Mulut Api

    Aku lelah, tapi masih saja memaksa otakku menjaga keseimbangannya dengan segala daya. Sudah 28 jam lebih aku memacu mata dan otak kanan-kiriku untuk merumuskan kaidah-kaidah irasional ke dalam bentuk yang tak biasa. Dan di sini, menyendiri menenggak kopi adalah caraku mempertahankan kelopak agar tak menuntut mengatup. Kulihat berkeliling: Manusia-manusia tanpa jiwa lalu lalang di sekelilingku dengan tubuh tegap, congkak dan penuh prasangka. Di balik kelopak yang indah dan memantul warna warni lampu itu tersimpan kemarahan dan kebencian terhadap apapun yang di hadapannya. Pada kursi, pada meja, pada dinding dan tentu pada manusia ‘terendah’ yang duduk di lantai sambil mengerang. Dan setiap mulutnya terbuka hendak bicara, semburan lidah api dan remah-remah kaca merobek dan mem
  • 14

    Sep

    Harapan

    Pernahkah engkau berharap akan sesuatu? Konon, harapan adalah konsep mentah semangat yang masih menempel di kamar-kamar otak kita. Sekali kita membukakan pintu untuknya keluar, maka harapan itu berangsur-angsur berubah menjadi semangat dan berakhir pada sebuah target dari apa yang ada di hati kita. Mungkin analisa dangkal mengenai harapan itu salah tapi –mau tak mau– itu benar terjadi di sekelilingku. Bilakah harapan tak berakhir pada target yang disasar? Ya! Harapan tak melulu mulus meninju titik tengah target yang ingin diraih. Harapan tetap saja masih berujud konsep otak yang dipengaruhi oleh seluruh kehidupan yang berlaku di sekelilingnya. Jika semesta disekelilingnya mendukung konsep harapan yang kita buka, maka tak lain selain tercapai apa yang kita harap. Begitu juga
  • 8

    Sep

    Sembilu

    Ada yang tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja di setiap jejak nafas yang engkau sisakan. Sepertinya keadaanmu saat ini telah menjadikanku pelakon monolog yang layak diolok-olok oleh kerinduan yang menohok. Kerinduan lagi? Sejatinya sesat apa yang aku lakukan hingga kerinduan yang semestinya indah malah mengiris dan berdarah? Mungkin pada sebagian orang rindu tak selalu sembilu. Andai saja aku tak usil merangkai lagi remah-remah kenangan yang bertebaran di kiri kananku mungkin tak kualami sembilu ini. Sudah cukup perih tertanam dalam hidupku saat keindahan kau renggut dan kau kibaskan pada dingin hatimu; meninggalkanku tanpa ampun, bahkan tak pada seulas katapun! Atas simbilu itu, kenapa begitu susah menguburmu di jejak masa laluku? — Seorang sahabat membukakanku jalan menjauh
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post